Pulau Lombok memang dikenal dengan keindahan pantai dan kehidupan
lautnya yang indah untuk dinikmati. Dan bicara pantai di Lombok, orang
pasti akan menyebutkan Pantai Senggigi dan Gili Trawangan yang sangat
terkenal bahkan sampai ke mancanegara. Adakah pantai yang lebih indah
dari Senggigi dan Gili Trawangan? Jawabannya adalah: BANYAK!!
Saya tinggal di Lombok, tepatnya di Kota Mataram, tapi saya bukan orang
Lombok asli, hanya perantauan yang “kebetulan” bertugas di Mataram.
Jadi, mumpung tinggal di Lombok, saya dan teman-teman kantor sering
melakukan perjalanan ke tempat-tempat menarik di Pulau Lombok. Itu salah
satu hal yang dapat saya syukuri dari penempatan kerja saya yang jauh
dari kampung halaman.
Suatu hari di bulan Desember 2009, kami kedatangan tamu dari kantor
pusat. Dan sudah menjadi kebiasaan setiap kali ada pegawai dari kantor
pusat datang pasti mereka minta ditemani jalan-jalan. Saya sih
senang-senang saja diminta menemani jalan, karena kebetulan waktu itu
saya baru beberapa bulan di Lombok, dan baru beberapa tempat yang sudah
saya kunjungi, antara lain Senaru, Gili Air, Gili Trawangan, dan Pantai
Senggigi. Kami pergi bertujuh, saya, si ibu dari kantor pusat, empat
orang teman kantor yang semuanya cewek, dan sopir kantor yang merangkap
sebagai guide kami.
Seharian itu kami ingin menjelajah pantai-pantai di Kabupaten Lombok
Tengah yang katanya bagus-bagus. Tujuan pertama kami adalah Pantai
Selong Belanak. Perjalanan dari Mataram ke pantai ini sekitar dua jam.
Lokasi pantainya sangat jauh dan susah dijangkau dengan kendaraan umum,
tipikal kebanyakan pantai di Lombok. Jadi kalau mau jalan-jalan di
Lombok, jangan pernah berharap bisa menggunakan angkutan umum kecuali
taksi, dan itu berarti pengeluaran besar. Lebih baik menyewa mobil atau
motor, dengan resiko agak kesulitan dengan arah jalan karena tidak ada
petunjuk jalan khusus menuju tempat wisata. Hal ini sering kami alami,
bahkan saya dan teman-teman pernah berjam-jam nyasar sewaktu kami ingin
menikmati keindahan Pantai Surga. Jika tidak mau repot, cukup menyewa
mobil beserta driver.
| Pantai Selong Belanak |
Pantai Selong Belanak adalah pantai yang bagus. Gradasi warna air
lautnya sangat keren: biru, biru tua, tosca, dengan hamparan pasir
pantai berwarna putih yang halus. Di tengah laut terdapat tiga bukit
karang yang menjulang. “Tiga bukit itu seperti Three Sister
yang di Australia.” Bu Etty, tamu kami berujar takjub. Kami sempat
menikmati ombak lautan dan mengelilingi tiga bukit itu menggunakan kapal
nelayan yang kami sewa.
Sewaktu kami kesana ada beberapa orang wisatawan juga, tetapi jumlahnya
sangat sedikit. Pantai ini tergolong sepi pengunjung, sangat jauh
berbeda jika dibandingkan dengan Senggigi atau Gili Trawangan, padahal
Pantai Selong Belanak tidak kalah bagusnya. Seandainya dikelola dengan
lebih baik dan promosi yang memadai, saya yakin Pantai Selong Belanak
bisa dijadikan salah satu andalan pariwisata di Pulau Lombok, khususnya
Lombok Tengah. Contoh pengelolaan yang kurang memadai salah satunya
adalah toilet. Memang ada toilet tetapi jumlahnya sangat terbatas dan
sangat kotor dengan air yang alirannya sangat minim. Disana terdapat
beberapa cottage dan rumah
makan, tetapi kurang tertata dengan baik. Dan satu lagi yang
mengecewakan, lingkungan sekitar pantai yang kurang bersih. But overall saya sangat menikmati pemandangan dan keindahan pantainya sehingga melupakan kekurangan-kekurangan di sekitar pantai.
***
| Pantai Mawun |
Dari Selong Belanak kami mampir ke Pantai Mawun. Pantai Mawun merupakan
pantai kecil berpasir putih yang dikelilingi oleh bukit dengan air yang
bersih dan jernih serta ombak yang kecil, sangat cocok untuk berenang
dan berjemur. Untuk yang menginginkan ketenangan dalam liburan, cobalah
datang ke Pantai Mawun. Suasananya sangat tenang, yang terdengar hanya
debur ombak yang melenakan. Hal ini dikarenakan tidak banyak wisatawan
yang datang kesana. Sewaktu kami kesana hanya ada beberapa wisatawan
mancanegara yang sedang berenang dan berjemur. Just like a private beach.
Ingin rasanya mendirikan tenda dan berkemah disana, berenang dan
berjemur seharian, pasti sangat menyenangkan. Tidak banyak yang dapat
saya ceritakan dari Pantai Mawun selain saya ingin mendirikan rumah kayu
di sana, seperti villa pribadi, saking
memikatnya pantai ini untuk saya. Jika saya jenuh dengan suasana kota
dan pekerjaan, saya akan lari ke villa saya di pinggir Pantai Mawun dan
bermalas-malasan seharian. Impian yang sulit terwujud nampaknya,
***
Perjalanan
kami berikutnya adalah Pantai Kuta atau yang sekarang disebut pantai
Mandalika. Tidak hanya Bali yang punya Pantai Kuta, di Lombok juga ada.
Berbeda dengan Pantai Kuta Bali yang berpasir putih, Pantai Kuta Lombok
berpasir merica, butiran-butiran pasirnya sebesar merica, berwarna putih
kekuningan. Terdapat batu-batu karang di pinggir pantai. Jika Pantai
Kuta Bali berada di tengah kota yang ramai, banyak polusi dan bising,
Pantai Kuta Lombok terletak jauh dari keramaian, udaranya juga masih
segar karena jauh dari polusi walaupun tidak jauh dari jalan raya juga.
Kami tidak lama disana, karena merasa terganggu dengan banyaknya penjual
souvenir dan mereka ini sangat ngotot. Kalau kita tidak membeli mereka
akan terus mengikuti kita, dan jika kita membeli, maka pedagang-pedagang
yang lain akan datang dan menyerbu kita. Hal ini membuat wisatawan
sangat tidak nyaman. Sangat disayangkan, pantai yang bagus di depan mata
tidak bisa kita nikmati karena kita sibuk dengan para pedagang itu.
| Pantai Mandalika / Kuta |
Tapi ada satu cerita yang kami dapat dari Pantai Kuta. “Disini ada
tradisi Bau Nyale yang biasanya diadakan pada bulan Februari” Mulyadi, driver sekaligus guide
kami yang memang orang Sasak asli bercerita kepada kami. “Bau Nyale?
Apaan tuh?” tanyaku antusias. Dan diapun mulai bercerita tentang tradisi
yang disebut Bau Nyale tersebut.
Setiap setahun sekali, yaitu antara bulan Februari dan Maret di Pantai
Kuta diadakan upacara atau festival yang dikenal dengan Bau Nyale. Kata
“Bau” berasal dari bahasa Sasak yang berarti menangkap atau mengambil,
sedangkan “Nyale” adalah sejenis cacing laut yang hidup di batu karang
di bawah permukaan laut. Festival ini merupakan tradisi masyarakat Sasak
dan berkaitan erat dengan legenda yang berkembang di Lombok tentang
seorang putri raja yang sangat cantik jelita bernama Putri Mandalika.
Jadi, karena kecantikan Putri Mandalika, banyak pangeran dari kerajaan
lain yang ingin memperistrinya. Setiap lamaran yang datang tidak satupun
yang ditolak oleh sang putri. Para pangeran ini tidak terima jika sang
putri diperistri oleh banyak pangeran, maka mereka sepakat untuk
menentukan siapa yang berhak memperistri Putri Mandalika dengan
peperangan. Siapa yang menang dalam peperangan tersebut, dialah yang
berhak mendapatkan sang putri yang cantik. Mendengar kabar tersebut
Putri Mandalika segera mencari jalan keluarnya, jangan sampai terjadi
peperangan dan ada pertumpahan darah. Putri ingin memilih salah satu
dari sekian banyak pangeran yang melamarnya, tetapi hal itu tidak akan
menghindarkan adanya pertumpahan darah.
Putri
Mandalika mengundang keluarga kerajaan dan seluruh rakyatnya, serta
para pangeran yang melamarnya beserta rakyat mereka ke Pantai Kuta. Di
hadapan semua yang hadir, sang putri berkata ”Setelah aku pikirkan
dengan matang, aku memutuskan bahwa diriku untuk kalian semua. Aku tidak
dapat memilih satu di antara banyak pangeran. Diriku telah ditakdirkan
menjadi nyale yang dapat kalian nikmati bersama pada bulan dan tanggal
saat munculnya nyale di permukaan laut.” Setelah mengucapkan kata-kata
tersebut, Putri Mandalika menceburkan dirinya ke tengah laut, dan tak
lama setelah sang putri ditelan ombak laut, tiba-tiba bermunculan
binatang seperti cacing yang banyak sekali dari dasar laut. Cacing laut
tersebut memiliki warna yang berbeda-beda, berwarna-warni, putih, hitam,
merah, hijau, kuning, dan ada pula yang coklat. Putri Mandalika
mengorbankan jiwa dan raganya demi kedamaian. Masyarakat Sasak
mempercayai bahwa Nyale yang keluar dari dasar laut setiap setahun
sekali tersebut sebagai jelmaan dari Putri Mandalika. Sesuai pesan sang
putri, mereka mengambil nyale sebanyak-banyaknya dan menikmatinya,
bahkan ada yang langsung dimakan hidup-hidup. Menurut penelitian, nyale
memiliki kandungan protein hewani yang sangat tinggi dan dapat membantu
mengeluarkan kuman-kuman dalam tubuh.
***
| Pantai Tanjung Aan |
| Pantai Tanjung Aan |
Tujuan
terakhir kami hari itu adalah Tanjung Aan. Tanjung Aan sangat unik,
memiliki dua jenis pasir pantai yaitu pasir putih yang halus seperti
tepung dan pasir merica berwarna-warni. Hamparan batu karang memenuhi
satu sisi pantai, sedangkan sisi yang lain yang berpasir halus sangat
cocok untuk berenang karena bebas dari batu karang, ombak lautpun tidak
terlalu besar dan airnya sangat jernih serta pantainya bersih. Ada
sebuah bukit yang menjulang di pinggir pantai, yang memungkinkan kita
melihat keindahan pantai dari atas bukit. Tanjung Aan sangat
menakjubkan, saya sangat suka pantai ini. Tapi sepertinya, lagi-lagi,
pantai yang indah ini kurang mendapat perhatian dari pemerintah. Banyak
sampah yang dibuang begitu saja di pantai. Hal ini benar-benar sangat
disayangkan. Pantai yang sangat indah itu harus tercemar karena
kurangnya kesadaran untuk membuang sampah pada tempatnya.
***
Dalam perjalanan kembali ke Mataram, sempat mengalami kemacetan di
perjalanan, hal yang sangat jarang terjadi di Lombok. Kami penasaran
dengan penyebab kemacetan itu, apakah ada kecelakaan atau apa. “Paling
ada Nyongkol” kata Mulyadi menjawab penasaran kami. Apapula itu
Nyongkol?
Nyongkol atau Nyongkolan adalah salah satu tradisi masyarakat Sasak,
yaitu arak-arakan pengantin dari rumah mempelai pria menuju rumah
mempelai wanita. Jangan membayangkan arak-arakan pengantin dengan
menggunakan mobil atau kendaraan lainnya, karena nyongkolan dilakukan
dengan berjalan kaki. Satu pertanyaan saya, bagaimana kalau misalnya
rumah mempelai pria di Kabupaten Lombok Timur dan rumah mempelai
wanitanya di Kota Mataram? Apakah harus nyongkolan, jalan kaki dari
Lombok Timur ke Mataram? Dibayar berapapun saya pasti menolak ikut
nyongkolan dari Lombok Timur ke Mataram! Naik mobil saja capek, satu
setengah jam perjalanan.
Dalam rombongan nyongkolan terdiri dari rombongan orang tua dari
keluarga laki-laki, pengantin wanita beserta para pendampingnya, diikuti
oleh pengantin pria dan pengiringnya, kemudian dibelakang rombongan
pengantin adalah penggembira dan pengiring kesenian khas Lombok, seperti
tawaq-tawaq, gendeng beleq, gamelan, rebana, dan lain-lain. Semua
rombongan tersebut menggunakan pakaian adat Sasak. Tapi yang kami lihat
waktu itu, ada segerombol anak muda memakai pakaian hitam-hitam
dibarisan paling belakang, membawa sound system
dan menyanyikan lagu-lagu yang tengah popular di masyarakat sambil
berjoget, padahal kalau adat nyongkol yang asli di zaman dulu kan tidak
ada yang seperti itu. Itulah pergeseran budaya. Padahal kalau menurut
saya, rombongan tersebut hanya mengganggu saja, terutama untuk warga
asing seperti saya yang baru pertama kali melihat tradisi nyongkol.
Mungkin bagi mereka kelompok tersebut adalah penggembira, yang membuat
suasana semakin semarak dengan lagu-lagu hits masa kini dan tarian
mereka. Tetapi menurut saya hal tersebut justru mengurangi nilai adat
dan kesan tradisional dari nyongkolan, dan suara musik yang keras dari sound system itu menenggelamkan suara musik dari tawaq-tawaq, gendang beleq, gamelan, dan alat musik tradisional Lombok lainnya.
***
Bulan mengintip malu-malu dari balik awan sewaktu kami sampai di
Mataram. Perjalanan panjang yang melelahkan ditambah tuntutan perut yang
menjerit minta makan, memaksa kami untuk segera memutuskan apa yang
akan kami santap sebagai hidangan makan malam.
“Mau makan apa bu?” karena dalam rangka menamani tamu, maka kami membiarkan tamu kami memilih menu makan malam.
“Mumpung di Lombok, saya mau nyobain Ayam Taliwang” pilihan yang tepat saya rasa.
Warung Ayam Taliwang Pak Udin yang berada di daerah Cakranegara menjadi
pilihan kami. Warung tenda pinggir jalan ini selalu penuh setiap
harinya. Beruntung masih ada tempat kosong. Dan ayam bakar madu menjadi
pilihan saya, disantap bersama nasi hangat dan plecing kangkung. Yang
unik dari ayam taliwang selain bumbunya tentu saja, adalah ayamnya. Ayam
yang digunakan adalah ayam yang belum dewasa, dan disajikan utuh dari
kepala sampai paha, cuma dibuang cakarnya saja. Kurang lengkap rasanya
makan ayam taliwang tanpa plecing kangkung. Kangkung, tauge dan kacang
tanah rebus ditambah sedikit parutann kelapa dan tentu saja beberuk yang
super pedas. Beberuk adalah sambal khas Lombok. Plecing kangkung adalah
menu wajib masyarakat Lombok. Kangkung Lombok agak sedikit berbeda,
daunnya sedikit dan batangnya panjang. Banyak pula yang menjadikan
kangkung Lombok sebagai oleh-oleh.
Malam semakin larut. Badan yang lelah dan ayam taliwang yang melenakan
perut membuat mata langsung mengantuk. Kami pun mengakhiri perjalanan
ini. Perjalanan yang sangat menyenangkan dan mengesankan, walaupun hanya
sedikit yang kami kunjungi hari itu. Masih akan lama saya disini,
mungkin beberapa tahun lagi. Saya masih punya banyak waktu untuk mencari
keindahan lain di Pulau Lombok yang belum banyak orang ketahui.
Indonesia memang indah. Maha Besar Allah yang menciptakan alam seindah
ini
No comments:
Post a Comment